Friday, January 13, 2012

Gejala Kompresi Turun


Umumnya gejala tenaga mesin berkurang ini diikuti dengan asap knalpot yang terasa perih di mata. Atau pada mesin diesel, umumnya ditambah warna asap yang pekat. Apa yang terjadi? Padahal Anda selalu melakukan perawatan berkala serta mengikuti semua anjuran di buku manual.

Kompresi Turun
Masalah utama terletak pada turunnya kompresi ruang bakar. Perlu diingat, kompresi adalah syarat terjadinya langkah tenaga setelah ledakan dalam proses pembakaran mesin. Penyebab paling umum adalah penumpukan kerak di kepala silinder.

Biasanya secara reflek pengemudi akan menambah injakan gas bila merasakan tenaga mesin loyo. Akibatnya terjadi pemborosan bbm.

Turunnya kompresi juga bisa diakibatkan tumpukan kerak pada klep yang membuat kedudukan klep di kepala silinder tak rapat. Hal itu berakibat pada langkah kompresi, tekanan yang diperlukan di ruang bakar tak cukup untuk menghasilkan ledakan maksimal. Selain boros, performa mesin akan turun signifikan. “Obat” dari gejala ini, mesin perlu dibongkar sebatas kepala silinder (top overhaul).

Turun mesin
Penyebab yang lebih parah adalah ausnya ring piston. Hal ini umumnya terjadi setelah 80 sampai 100 ribu km untuk pemakaian rpm tinggi, saat di jalan tol atau ke luar kota, sedangkan pada pemakaian normal bisa sampai 110 ribu km. 

Namun menurutnya hal ini adalah efek pemakaian yang normal. Guna memperbaiki, turun mesin saja hingga kondisi jeroan mesinnya bisa diperiksa langsung. Apalagi jika jarak tempuhnya juga sudah tinggi.

Turun mesin memang tak ada jadwalnya. Bila perlakuan, perawatan serta “asupannya” tepat, banyak mobil berusia 10 tahun lebih yang belum pernah turun mesin. Tapi bila perawatannya tak benar, bukan tak mungkin mobil usia 2 tahun sudah perlu. Bila tenaga ngempos  dan bensin boros tapi oli mesin tak berkurang, penyakitnya kemungkinan hanya di kepala silinder. Tapi kalau oli berkurang tanpa ada kebocoran, berarti hilang lantaran ikut terbakar. Kalau sudah gini, tak ada pilihan selain turun mesin.

Ring piston
Ring  piston adalah gelang yang menempel di piston. Fungsinya menjaga clearence  (celah) di antara piston dan dinding silinder (liner), hingga isi ruang bakar tak menyeberang ke dalam mesin, begitu pula sebaliknya. Ada sepasang ring di tiap piston: kompresi (atas) dan oli (bawah).

Bila yang rusak ring kompresi, asap knalpotnya enggak ngebul.  Tandanya bisa terlihat di saluran napas kepala silinder (breather) yang berasap/basah hingga mengotori filter udara yang tersambung breather.  Tapi kalau yang kena ring  oli, asap knalpot jadi putih. 

Selain keausan material , penyebab kebocoran kompresi dari ring  gara-gara kualitas oli yang jelek serta jadwal ganti oli yang tidak tepat.

Liner
Liner  adalah lapisan metal pada dinding silinder yang berinteraksi langsung dengan ring  piston. Jadi selain ring  piston, liner  juga ikut aus dan harus diganti bila ganti piston. Pada mesin canggih berbahan aluminium liner-nya hanya berupa coating,  bukan material keras. Jadi bila kompresi turun, ya harus ganti mesin.

CO2 Analyzer
Boleh dibilang alat ini adalah laboratoriumnya mobil. Kalau manusia diambil kotorannya untuk mengetahui jenis penyakit, mobil diambil hasil buangan knalpotnya untuk mengetahui kondisi mesin. Dengan alat ini, kita bisa melihat hasil pembakaran. Jadi setelan CO2-nya bisa benar-benar pas.

Selain itu, alat hi-scan juga digunakan untuk mendiagnosis masalah sebenarnya. Tanpa alat ini, perbaikan akan makan waktu lama dan kadang meleset, sebab mesin mobil sekarang umumnya sudah canggih. Setelan CO2 memang bisa diubah hanya dengan memutar trim,  tanpa perlu alat khusus. Tapi tanpa CO2 analyzer,  hasilnya sulit diketahui.

sumber : autobildindonesia.com